Papan kang tanpa tulis ( tempat yang tak bertulis) dijelaskan maknanya dalam pepali berikut ini:
Ana papan ingkang tanpa tulis. Wujud napi artine punika, Sampyuh
ing solah semune, Nir asma kawuleku, Mapan jati rasa sejati. Ing njro
pandugeng taya. Marang Ing Hyang Agung. Pangrasa sajroning rasa,
Sayektine kang rasa nunggal lan urip,Urip langgeng dimulya.
(Ada tempat yang tak bertulisan. Kosong mutlak artinya itu, Dalamnya
lenyap terlarut segala gerak dan semu. Hapus sebutan Aku karena Masuk
kedalam inti rasa sejati, Didalam tiada bangun (sadar) Kediaman Hyang
Agung Perasaan masuk kedalam rasa, Sebenarnya rasa sudah bersatu dengan
hidup, Hidup kekal serba nikmat).
Biasanya, tempat (ruang, dimensi) memiliki nama, atau paling tidak,
dinamai oleh manusia dengan kata-kata atau bahasa. Tapi disini, Ki Ageng
Selo menyebut adanya ruang atau dimensi yang tak sanggup dilukiskan
dengan kata-kata atau bahasa manusia. Ruang (dimensi) itulah yang
disebut agama sebagai ‘ruang Allah’ (baitullah, ‘rumah Allah’).
Maksudnya, bukan baitullah yang ada di Mekkah, Saudi Arabia, yang juga
merupakan lambang atau simbol ‘ruang Allah’, tapi maksudnya
sungguh-sungguh ‘ruang Allah’, suatu dimensi tersendiri yang tak mampu
dinamai kata-kata dan tak mampu disebut dalam bahasa biasa, yang di
dalamnya Allah berada. Ki Ageng menyebutnya ‘zat Allah’ atau ‘kekosongan
mutlak’ (wujud napi artine punika).
Dalam ‘ruang kosong mutlak’ atau ‘marang ing Hyang Agung’ (kediaman
Tuhan Agung), tak ada prinsip ‘gerak’ lagi, sebab ‘gerak’ hanya berlaku
bagi ciptaan, sedangkan ‘Si Penggerak’ yaitu Allah, tidak lagi
membutuhkan ‘gerak’, justru dari dialah ‘gerak’ bagi ciptaan itu ada dan
dia sendiri tidak bergerak. Seperti dalang, dialah yang menggerakkan
semua wayang, tapi dia sendiri tidak digerakkan, karena dia itu asalmula
‘gerak’ dan ‘gerak’ itu sendiri. Aristoteles menyebutnya sebagai ‘Sang
Penggerak yang tak tergerakkan’ (The Unmoved Mover).
Orang yang ingin memasuki ‘ruang Allah’, dapat memasukinya dengan cara
olah-rohani atau ‘jalan mistik’ (Jalan rahasia). Dalam ‘jalan mistik’, manusia
melenyapkan dirinya (fana’) untuk masuk ke ‘kekosongan mutlak’ itu,
masuk ke dalam dzat Allah dan melarutkan dzatnya dalam dzat Allah. Jika
seorang berhasil masuk ke dzat Allah, maka segala kemanusiaannya untuk
sementara lenyap, seperti orang yang mabuk atau orang pingsan.
Kesadarannya hilang, diganti dengan bentuk kesadaran lain, yakni ‘rasa
nikmat’ (ekstase), seperti rasa nikmat dari anggur yang memabukkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar