Tunjung tanpa selaga (teratai tak berkelopak) dijelaskan maknanya sebagai berikut:
Sasmitane ingkang tunjung putih/Tanpa slaga inggih
nyatanira/Rokhilafi satuhune/Datullah ananipun/Yeku sabda ingkang
arungsit./Iku pan bangsa cipta,/Hananira iku./Tandha kang darbe
pratandha.
(Isyarat teratai putih/Tak berkelopak ialah kenyataan./Ruhilafi
sebenarnya./Itu adanya datullah,/Itu, sabda yang sangat pelik./Itu kan
perihal cipta,/Yang disebut itu./Sifat yang memiliki segala sifat.)
Ada teratai, tapi tak berkelopak. Dan kalau teratai tak berkelopak,
bagaimana orang dapat mengenalinya, sedangkan bunga teratai nampak jelas
sebagai teratai apabila ia berkelopak. Ternyata, yang dimaksud Ki Ageng
Sela di sini bukanlah bunga teratai yang material dan empiris, yang akan
nampak jika dilihat oleh mata fisikal manusia. ‘Bunga teratai yang tak
berkelopak’ ialah simbol hakikat wujud Tuhan. Hakikat wujud Tuhan
mustahil ditangkap oleh mata fisikal; ia hanya dapat disimbolkan dengan
daya imajinasi manusia, tapi tentunya dengan simbolisme yang tidak
biasa, seperti simbolisme ‘bunga teratai tak berkelopak’ yang sangat di
luar kebiasaan itu. Dalam ajaran Sufisme-Jawa, hakikat wujud Tuhan
disebut dengan roh ilapi atau ruhilafi. Buku Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa karangan P.J. Zoetmulder sangat membantu untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan ruhilafi disini. Zoetmulder menjelaskan, bahwa ruhilafi
ialah ‘...merupakan mata rantai utama antara Tuhan dan dunia. Berulang
kali diumpamakan atau disamakan dengan huruf alif, huruf pertama dalam
alfabet. Seperti semua huruf merupakan tanda, jadi manifestasi mengenai
apa yang dilambangkan, sedangkan huruf alif merupakan huruf pertama,
demikian pula roh ilapi merupakan manifestasi utama di antara
para manifestasi ilahi. Oleh karena itu dinamakan ‘’ratu semua roh’’
[ratu ning nyawa] atau ‘’ratu segala sesuatu yang nampak [ratu ning
salir kumelip]’ (Zoetmulder 1990:192-193). Jadi, ruhilafi ialah roh
pertama, manifestasi pertama, wujud pertama, bentuk pertama, atau
nampakan pertama dari Tuhan; agar Tuhan dapat dikenali oleh manusia,
tentunya lewat ‘mata-batin’, bukannya ‘mata fisikal’. Nampakan pertama
Tuhan itu sangat nyata, senyata-nyatanya, sehingga walaupun ia ‘tak
berkelopak’, ia masih dapat dikenali sebagai ‘bunga teratai’.
Sabtu, 19 Mei 2012
Papan kang tanpa tulis.
Papan kang tanpa tulis ( tempat yang tak bertulis) dijelaskan maknanya dalam pepali berikut ini:
Ana papan ingkang tanpa tulis. Wujud napi artine punika, Sampyuh ing solah semune, Nir asma kawuleku, Mapan jati rasa sejati. Ing njro pandugeng taya. Marang Ing Hyang Agung. Pangrasa sajroning rasa, Sayektine kang rasa nunggal lan urip,Urip langgeng dimulya.
(Ada tempat yang tak bertulisan. Kosong mutlak artinya itu, Dalamnya lenyap terlarut segala gerak dan semu. Hapus sebutan Aku karena Masuk kedalam inti rasa sejati, Didalam tiada bangun (sadar) Kediaman Hyang Agung Perasaan masuk kedalam rasa, Sebenarnya rasa sudah bersatu dengan hidup, Hidup kekal serba nikmat).
Biasanya, tempat (ruang, dimensi) memiliki nama, atau paling tidak, dinamai oleh manusia dengan kata-kata atau bahasa. Tapi disini, Ki Ageng Selo menyebut adanya ruang atau dimensi yang tak sanggup dilukiskan dengan kata-kata atau bahasa manusia. Ruang (dimensi) itulah yang disebut agama sebagai ‘ruang Allah’ (baitullah, ‘rumah Allah’). Maksudnya, bukan baitullah yang ada di Mekkah, Saudi Arabia, yang juga merupakan lambang atau simbol ‘ruang Allah’, tapi maksudnya sungguh-sungguh ‘ruang Allah’, suatu dimensi tersendiri yang tak mampu dinamai kata-kata dan tak mampu disebut dalam bahasa biasa, yang di dalamnya Allah berada. Ki Ageng menyebutnya ‘zat Allah’ atau ‘kekosongan mutlak’ (wujud napi artine punika).
Dalam ‘ruang kosong mutlak’ atau ‘marang ing Hyang Agung’ (kediaman Tuhan Agung), tak ada prinsip ‘gerak’ lagi, sebab ‘gerak’ hanya berlaku bagi ciptaan, sedangkan ‘Si Penggerak’ yaitu Allah, tidak lagi membutuhkan ‘gerak’, justru dari dialah ‘gerak’ bagi ciptaan itu ada dan dia sendiri tidak bergerak. Seperti dalang, dialah yang menggerakkan semua wayang, tapi dia sendiri tidak digerakkan, karena dia itu asalmula ‘gerak’ dan ‘gerak’ itu sendiri. Aristoteles menyebutnya sebagai ‘Sang Penggerak yang tak tergerakkan’ (The Unmoved Mover).
Orang yang ingin memasuki ‘ruang Allah’, dapat memasukinya dengan cara olah-rohani atau ‘jalan mistik’ (Jalan rahasia). Dalam ‘jalan mistik’, manusia melenyapkan dirinya (fana’) untuk masuk ke ‘kekosongan mutlak’ itu, masuk ke dalam dzat Allah dan melarutkan dzatnya dalam dzat Allah. Jika seorang berhasil masuk ke dzat Allah, maka segala kemanusiaannya untuk sementara lenyap, seperti orang yang mabuk atau orang pingsan. Kesadarannya hilang, diganti dengan bentuk kesadaran lain, yakni ‘rasa nikmat’ (ekstase), seperti rasa nikmat dari anggur yang memabukkan.
Ana papan ingkang tanpa tulis. Wujud napi artine punika, Sampyuh ing solah semune, Nir asma kawuleku, Mapan jati rasa sejati. Ing njro pandugeng taya. Marang Ing Hyang Agung. Pangrasa sajroning rasa, Sayektine kang rasa nunggal lan urip,Urip langgeng dimulya.
(Ada tempat yang tak bertulisan. Kosong mutlak artinya itu, Dalamnya lenyap terlarut segala gerak dan semu. Hapus sebutan Aku karena Masuk kedalam inti rasa sejati, Didalam tiada bangun (sadar) Kediaman Hyang Agung Perasaan masuk kedalam rasa, Sebenarnya rasa sudah bersatu dengan hidup, Hidup kekal serba nikmat).
Biasanya, tempat (ruang, dimensi) memiliki nama, atau paling tidak, dinamai oleh manusia dengan kata-kata atau bahasa. Tapi disini, Ki Ageng Selo menyebut adanya ruang atau dimensi yang tak sanggup dilukiskan dengan kata-kata atau bahasa manusia. Ruang (dimensi) itulah yang disebut agama sebagai ‘ruang Allah’ (baitullah, ‘rumah Allah’). Maksudnya, bukan baitullah yang ada di Mekkah, Saudi Arabia, yang juga merupakan lambang atau simbol ‘ruang Allah’, tapi maksudnya sungguh-sungguh ‘ruang Allah’, suatu dimensi tersendiri yang tak mampu dinamai kata-kata dan tak mampu disebut dalam bahasa biasa, yang di dalamnya Allah berada. Ki Ageng menyebutnya ‘zat Allah’ atau ‘kekosongan mutlak’ (wujud napi artine punika).
Dalam ‘ruang kosong mutlak’ atau ‘marang ing Hyang Agung’ (kediaman Tuhan Agung), tak ada prinsip ‘gerak’ lagi, sebab ‘gerak’ hanya berlaku bagi ciptaan, sedangkan ‘Si Penggerak’ yaitu Allah, tidak lagi membutuhkan ‘gerak’, justru dari dialah ‘gerak’ bagi ciptaan itu ada dan dia sendiri tidak bergerak. Seperti dalang, dialah yang menggerakkan semua wayang, tapi dia sendiri tidak digerakkan, karena dia itu asalmula ‘gerak’ dan ‘gerak’ itu sendiri. Aristoteles menyebutnya sebagai ‘Sang Penggerak yang tak tergerakkan’ (The Unmoved Mover).
Orang yang ingin memasuki ‘ruang Allah’, dapat memasukinya dengan cara olah-rohani atau ‘jalan mistik’ (Jalan rahasia). Dalam ‘jalan mistik’, manusia melenyapkan dirinya (fana’) untuk masuk ke ‘kekosongan mutlak’ itu, masuk ke dalam dzat Allah dan melarutkan dzatnya dalam dzat Allah. Jika seorang berhasil masuk ke dzat Allah, maka segala kemanusiaannya untuk sementara lenyap, seperti orang yang mabuk atau orang pingsan. Kesadarannya hilang, diganti dengan bentuk kesadaran lain, yakni ‘rasa nikmat’ (ekstase), seperti rasa nikmat dari anggur yang memabukkan.
Langganan:
Komentar (Atom)