Laman


Kamis, 24 Mei 2012

Serat Jaka Lodang by R.Ng. Ranggawarsita

Gambuh
1. Jaka Lodang gumandhul
Praptaning ngethengkrang sru muwus
Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi
Gunung mendhak jurang mbrenjul
Ingusir praja prang kasor
Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon
kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras.
Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan
bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah
sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan
(akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir dari negerinya.
2.Nanging awya kliru
Sumurupa kanda kang tinamtu
Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti
Maksih katon tabetipun
Beda lawan jurang gesong
Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini.
Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung
akan tetap masih terlihat bekasnya.
Lain sekali dengan jurang yang curam.
3. Nadyan bisa mbarenjul
Tanpa tawing enggal jugrugipun
Kalakone karsaning Hyang wus pinasti
Yen ngidak sangkalanipun
Sirna tata estining wong
Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung,
namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor.
(Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi.
Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik
tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan).
Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan
akan terjadi pada tahun Jawa 1850.
(Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1).
Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.
Sinom
1. Sasedyane tanpa dadya
Sacipta-cipta tan polih
Kang reraton-raton rantas
Mrih luhur asor pinanggih
Bebendu gung nekani
Kongas ing kanistanipun
Wong agung nis gungira
Sudireng wirang jrih lalis
Ingkang cilik tan tolih ring cilikira
Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud,
apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan,
segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah,
karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan.
Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela.
Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada mati,
sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.
2. Wong alim-alim pulasan
Njaba putih njero kuning
Ngulama mangsah maksiat
Madat madon minum main
Kaji-kaji ambataning
Dulban kethu putih mamprung
Wadon nir wadorina
Prabaweng salaka rukmi
Kabeh-kabeh mung marono tingalira
Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka.
Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak.
Banyak ulama berbuat maksiat.
Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi.
Para haji melemparkan ikat kepala hajinya.
Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda.
Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.
3. Para sudagar ingargya
Jroning jaman keneng sarik
Marmane saisiningrat
Sangsarane saya mencit
Nir sad estining urip
Iku ta sengkalanipun
Pantoging nandang sudra
Yen wus tobat tanpa mosik
Sru nalangsa narima ngandel ing suksma
Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut.
Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin menjadi-jadi.
Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1).
Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930.
Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan diri
kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.
Megatruh
1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu
Jaka Lodang nabda malih
Nanging ana marmanipun
Ing waca kang wus pinesthi
Estinen murih kelakon
Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih.
Kemudian Joko Lodang berkata lagi :
“Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab,
didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya
segera dan dapat terjadi “.
2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun
Neng sajroning madya akir
Wiku Sapta ngesthi Ratu
Adil parimarmeng dasih
Ing kono kersaning Manon
Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman.
Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1).
Bertepatan dengan tahun Masehi 1945.
Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.
3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk
Malenuk samargi-margi
Marmane bungah kang nemu
Marga jroning kethuk isi
Kencana sesotya abyor
Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil)
yang berada banyak dijalan.
Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut
isinya tidak lain emas dan kencana.

Serat Sabda Jati.

Serat Sabda Jati ini adalah karya terakhir dari Pujangga Agung R.Ng. Rangga Warsita sebelum wafat tahun 1873. Dalam akhir serat ini beliau berpamitan untuk berpulang dalam usia 71 tahun. Sebagai Pujangga Jawa sebelum berpulang beliau berpamitan dan meninggalkan warisan kepada anak cucu serta siswa-siswanya berupa Sabda, yaitu Sabda Jati yang artinya Sabda = ucapan dan Jati=Sejati= Kebenaran.
Serat Sabda Jati
1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu;
MarGAne suka basuki;
Dimen luWAR kang kinayun;
Kalising panggawe SIsip;
Ingkang TAberi prihatos.
(Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin).
2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh;
Galedahen kang sayekti;
Talitinen awya kleru;
Larasen sajroning ati;
Tumanggap dimen tumanggon.
(Dalam hidup keprihatinan itu pandanglah dengan seksama,intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,agar mudah menanggapi sesuatu).
3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu;
Angayomi ing tyas wening;
Eninging ati kang suwung;
Nanging sejatining isi;
Isine cipta sayektos.
(Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati).
4. Lakonana klawan sabaraning;
Lamun obah niniwasi;
Kasusupan setan gundhul;
Ambebidung nggawa kendhi;
Isine rupiah kethon.
Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak).
5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu;
Dadi panggonaning iblis;
Mlebu mring alam pakewuh;
Ewuh mring pananing ati;
Temah wuru kabesturon.
Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan iktikad hati yang baik,seolah-olah mabuk kepayang).
6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu;
Hayuning tyas sipat kuping;
Kinepung panggawe rusuh;
Lali pasihaning Gusti;
Ginuntingan kaya mrenos.
Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping).
7. Parandene kabeh kang samya andulu;
Ulap kalilipen wedhi;
Akeh ingkang padha sujut;
Kinira yen Jabarail;
Kautus dening Hyang Manon.
(Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan).
8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh;
Kewuhan sajroning ati;
Yen tiniru ora urus;
Uripe kaesi-esi;
Yen niruwa dadi asor.
(Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan tercela akhirnya menjadi sengsara).
9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung;
Anggelar sakalir-kalir;
Kalamun temen tinemu;
Kabegjane anekani;
Kamurahane Hyang Manon.
(Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya).
10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun;
Yen temen-temen sayekti;
Dewa aparing pitulung;
Nora kurang sandhang bukti;
Saciptanira kelakon.
(Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi segala cita-cita dan kehendaknya tercapai).
11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur;
Saka pengunahing Widi;
Ambuka warananipun;
Aling-aling kang ngalingi;
Angilang satemah katon.
(Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui).
12. Para jalma sajroning jaman pakewuh;
Sudranira andadi;
Rahurune saya ndarung;
Keh tyas mirong murang margi;
Kasekten wus nora katon.
(Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan diatas ril kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak).
13. Katuwane winawas dahat matrenyuh;
Kenyaming sasmita yekti;
Sanityasa tyas malatkung;
Kongas welase kepati;
Sulaking jaman prihatos.
(Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut, senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut).
14. Waluyane benjang lamun ana wiku;
Memuji ngesthi sawiji;
Sabuk tebu lir majenun;
Galibedan tudang-tuding;
Anacahken sakehing wong.
(Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945). Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila, hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang).
15. Iku lagi sirep jaman Kala Bendu;
Kala Suba kang gumanti;
Wong cilik bisa gumuyu;
Nora kurang sandhang bukti;
Sedyane kabeh kelakon.
(Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba. Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai).
16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput;
Mulur lir benang tinarik;
Nanging kaseranging ngumur;
Andungkap kasidan jati;
Mulih mring jatining enggon.
(Sayang sekali “penglihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai, bagaikan menarik benang dari ikalannya.Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini).
17.Amung kurang wolung ari kang kadulu;
Tamating pati patitis;
Wus katon neng lokil makpul;
Angumpul ing madya ari;
Amerengi Sri Budha Pon.
(Yang terlihat hanya kurang 8 hari lagi, sudah sampai waktunya, kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon).
18. Tanggal kaping lima antarane luhur;
Selaning tahun Jimakir;
Toluhu marjayeng janggur;
Sengara winduning pati;
Netepi ngumpul sak enggon;
(Tanggal 5 bulan Sela(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan sang Pujangga kembali menghadap Tuhan).
19. Cinitra ri budha kaping wolulikur;
Sawal ing tahun Jimakir;
Candraning warsa pinetung;
Sembah mukswa pujangga ji;
Ki Pujangga pamit layon.
(Karya ini ditulis di hari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.(Sembah=2, Mukswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873).

Minggu, 20 Mei 2012

Memulai hidup sederhana

Di era globalisasi seperti ini memang terasa berat untuk memulai hidup sederhana, karena jaman memang mendorong untuk membuat pola hidup konsumtif. Lalu bagaimana untuk memulainya?
Ada beberapa langkah agar hidup sederhana itu tak hanya menjadi slogan semata, dengan langkah yang sederhana pula yang harus kita lakukan, yaitu :

1. Kuatkan niat dengan merenung.
2. Prioritaskan  dengan hal-hal yang sederhana.
3. Disiplin.
4. Belajar menikmati kesederhanaan dan tinggalkan pola hidup konsumtif.

1. Kuatkan niat dengan merenung.  

Carilah suasana yang paling santai dan gunakanlah saat-saat tersebut untuk merenung, apa sih sebenarnya tujuan hidup ini (untuk membantu jawaban itu baca : Sangkan Paraning Dumadi), sehingga kita dapat membuat prioritas apa saja yang harus dilakukan. Kemudian renungkan juga apa yang telah kita lakukan, sudah sesuaikah dengan kebutuhan tujuan hidup yang sejati? Contoh yang paling sederhana, renungkan berapa kali sehari kita butuh makan, minum, bernafas dsb.

2. Prioritaskan dengan hal-hal sederhana. 

Setelah  semua kita renungkan, segera laksanakan langkah-langkah untuk memulai hidup sederhana dengan prioritas sesuatu yang paling sederhana untuk mengurai hal-hal yang lebih rumit. Sebagai contoh : bersihkanlah tempat tinggal kita kalau terlihat kotor agar nyaman untuk kita tinggali, belajar mengerjakan sesuatu sendiri (mandiri), agar dalam mengejar penghasilan tidak terlalu dipaksakan. Pada intinya prioritaskan pada kebutuhan dasar hidup kita.

3. Disiplin.

Apapun yang kita kerjakan  akan berarti kalau kita lakukan dengan disiplin. Dengan disiplin dan konsisten maka kesederhanaan itu akan terbentuk pada diri kita secara kokoh. Contoh yang sederhana adalah tinggalkan perilaku yang tak berguna, seperti ngerumpi, merokok, makan yang berlebihan, atau apapun yang sifatnya kesenangan sesaat.

4. Belajar menikmati kesederhanaan dan tinggalkan pola hidup konsumtif.

Bagaimana menikmati kesederhanaan itu? Cobalah kita renungkan dan rasakan kembali, apa yang sudah kita lakukan pada suatu kesederhanaan dengan sebelum kita mulai pola hidup sederhana tersebut. Jiwa dan raga kita akan menjadi lebih tenteram dan nyaman. Hati akan menjadi penuh syukur, karena sesungguhnya hidup memang sederhana.

Mengapa harus meninggalkan pola hidup konsumtif? Ya...karena dengan kita konsumtif banyak hal yang tak bermanfaat. Kita sebagai makhluk sosial tentu tak bisa lepas dari pengaruh lingkungan kita. Untuk itu aturlah diri kita untuk berperilaku sederhana, agar lingkungan kita tak terganggu dengan segala perbuatan kita. Contoh yang paling sering kita jumpai adalah perbuatan korupsi dan ketidak jujuran lainnya adalah sebagai akibat dari pola hidup konsumtif.