Serat Sabda Jati ini adalah karya terakhir dari Pujangga Agung R.Ng. Rangga Warsita sebelum wafat tahun 1873. Dalam akhir serat ini beliau berpamitan untuk berpulang dalam usia 71 tahun. Sebagai Pujangga Jawa sebelum berpulang beliau berpamitan dan meninggalkan warisan kepada anak cucu serta siswa-siswanya berupa Sabda, yaitu Sabda Jati yang artinya Sabda = ucapan dan Jati=Sejati= Kebenaran.
Serat Sabda Jati
1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu;
MarGAne suka basuki;
Dimen luWAR kang kinayun;
Kalising panggawe SIsip;
Ingkang TAberi prihatos.
(Jangan
berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,agar mendapat kegembiraan
serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,terhindar dari
perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin).
2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh;
Galedahen kang sayekti;
Talitinen awya kleru;
Larasen sajroning ati;
Tumanggap dimen tumanggon.
(Dalam
hidup keprihatinan itu pandanglah dengan seksama,intropeksi, telitilah
jangan sampai salah, endapkan didalam hati,agar mudah menanggapi
sesuatu).
3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu;
Angayomi ing tyas wening;
Eninging ati kang suwung;
Nanging sejatining isi;
Isine cipta sayektos.
(Dapatnya
demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,mengendapkan pikiran,
dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong namun sebenarnya
akan menemukan cipta yang sejati).
4. Lakonana klawan sabaraning;
Lamun obah niniwasi;
Kasusupan setan gundhul;
Ambebidung nggawa kendhi;
Isine rupiah kethon.
Segalanya
itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.Sebab jika bergeser (dari
hidup yang penuh kebajikan)akan menderita kehancuran. Kemasukan setan
gundul,yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak).
5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu;
Dadi panggonaning iblis;
Mlebu mring alam pakewuh;
Ewuh mring pananing ati;
Temah wuru kabesturon.
Bila
terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,sudah jelas akan menjadi
sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan,
kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan iktikad hati yang
baik,seolah-olah mabuk kepayang).
6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu;
Hayuning tyas sipat kuping;
Kinepung panggawe rusuh;
Lali pasihaning Gusti;
Ginuntingan kaya mrenos.
Bila
sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan yang menuju
kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,sebab sudah
diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.Sudah melupakan Tuhannya.
Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping).
7. Parandene kabeh kang samya andulu;
Ulap kalilipen wedhi;
Akeh ingkang padha sujut;
Kinira yen Jabarail;
Kautus dening Hyang Manon.
(Namun
demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,tidak dapat
membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga yang jahat disukai
dianggap utusan Tuhan).
8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh;
Kewuhan sajroning ati;
Yen tiniru ora urus;
Uripe kaesi-esi;
Yen niruwa dadi asor.
(Namun
bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran melihat
contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan tercela akhirnya
menjadi sengsara).
9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung;
Anggelar sakalir-kalir;
Kalamun temen tinemu;
Kabegjane anekani;
Kamurahane Hyang Manon.
(Itu
artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan langit,
siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya).
10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun;
Yen temen-temen sayekti;
Dewa aparing pitulung;
Nora kurang sandhang bukti;
Saciptanira kelakon.
(Segala
permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus
hati.Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai).
11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur;
Saka pengunahing Widi;
Ambuka warananipun;
Aling-aling kang ngalingi;
Angilang satemah katon.
(Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui).
12. Para jalma sajroning jaman pakewuh;
Sudranira andadi;
Rahurune saya ndarung;
Keh tyas mirong murang margi;
Kasekten wus nora katon.
(Manusia-manusia
yang hidup didalam jaman kerepotan,cenderung meningkatnya
perbuatan-perbuatan tercela,makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran
yang tidak berjalan diatas ril kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak
tampak).
13. Katuwane winawas dahat matrenyuh;
Kenyaming sasmita yekti;
Sanityasa tyas malatkung;
Kongas welase kepati;
Sulaking jaman prihatos.
(Lama
kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan
tersebut, senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan
tersebut).
14. Waluyane benjang lamun ana wiku;
Memuji ngesthi sawiji;
Sabuk tebu lir majenun;
Galibedan tudang-tuding;
Anacahken sakehing wong.
(Jaman
yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun
1877(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun
Masehi 1945). Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti
orang gila, hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya
orang).
15. Iku lagi sirep jaman Kala Bendu;
Kala Suba kang gumanti;
Wong cilik bisa gumuyu;
Nora kurang sandhang bukti;
Sedyane kabeh kelakon.
(Disitulah
baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba. Dimana
diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai).
16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput;
Mulur lir benang tinarik;
Nanging kaseranging ngumur;
Andungkap kasidan jati;
Mulih mring jatining enggon.
(Sayang
sekali “penglihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai, bagaikan
menarik benang dari ikalannya.Namun karena umur sudah tua sudah merasa
hampir datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini).
17.Amung kurang wolung ari kang kadulu;
Tamating pati patitis;
Wus katon neng lokil makpul;
Angumpul ing madya ari;
Amerengi Sri Budha Pon.
(Yang terlihat hanya kurang 8 hari lagi, sudah sampai waktunya, kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon).
18. Tanggal kaping lima antarane luhur;
Selaning tahun Jimakir;
Toluhu marjayeng janggur;
Sengara winduning pati;
Netepi ngumpul sak enggon;
(Tanggal
5 bulan Sela(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,Windu Sengara (atau
tanggal 24 Desember 1873)kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang
ditentukan sang Pujangga kembali menghadap Tuhan).
19. Cinitra ri budha kaping wolulikur;
Sawal ing tahun Jimakir;
Candraning warsa pinetung;
Sembah mukswa pujangga ji;
Ki Pujangga pamit layon.
(Karya
ini ditulis di hari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.(Sembah=2,
Mukswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar